Galaunya Anak Muda

Terlintas dan terpikir dalam pikiran saya bahwa pemimpin masa depan adalah pemimpin yang paripurna, maksudnya kuat dari mulai jasmani sampai rohaninya, pemimpin yang bisa memimpin urusan dunia dan urusan akhirat, Rosulullah SAW salah satu contohnya.

Terenyuh dan haru disaat melihat sebuah video di YouTube (klik disini), seorang walikota Bandung sekaligus alumni dan dosen ITB (salah satu tokoh inspirasi saya) yang sedang diwawancarai disebuah stasiun TV swasta. Saya ingin menjadi pemimpin yang paripurna, untuk membahagiakan orang tua, pemimpin yang bisa memimpin dan menata Bandung sekaligus menjadi khatib shalat jum’at (red : pemimpin umat islam), kurang lebih kata Bapak Ridwan Kamil di video tersebut. Sedih, bangga, haru dan termotivasi berkecamuk dalam diri saya ketika mendengar suara video itu. Huuh, apakah saya bisa bisa seperti itu ya.. tak sengaja terucap dalam batin saya.

Sampai saat ini saya menyakini, orang dikatakan hebat itu tidak cukup dengan hanya bermanfaat bagi orang lain, disamping itu juga harus memiliki ilmu yang tinggi dan akhlak yang mulia. Nah, ilmu yang tinggi itu dari mana ?, tentu jawabannya dari belajar, entah dari pelajaran formal (kuliah) atau informal (kursus), semakin seseorang memiliki ilmu yang tinggi, saya yakin derajat sosial dan pekerjaannya juga akan semakin tinggi. Kalau akhlak mulia itu dari mana ?, sampai saat ini saya berkeyakinan bahwa akhlak (karakter) yang baik bisa digembleng dari ilmu agama, semakin tinggi dia faham tentang agamanya maka dia akan semakin menjadi manusia yang berakhlak.

Ironisnya, saat ini pemuda-pemudi Indonesia yang notabene penerus bangsa khususnya di lingkungan kampus umum, malah cenderung cuek dengan masalah agama dan sangat sedikit orang yang mau belajar tentang agama. Sebaliknya di desa yang cuek dengan pendidikannya, lulus SMA/SMK/MA dirasa sangat sudah cukup untuk bekal mengarumi bahtera kehidupan. Yaa, . . banyak alasan yang divonis untuk menjadi penyebab adanya kondisi dan situasi diatas. Saya tidak akan men-judge satu per satu. hehe

Era telah berubah, globalisasi telah menyerang dari segala penjuru titik masuk manusia, arus negatif dan positif rancu akibat dangkalnya pemahaman. Islamisasi, klenikisasi, dan kapitalisasi seakan menjadi kebiasaan tiap hari manusia Indonesia. Pagi sholat subuh, siang dateng ke dukun, dan malam pergi ke diskotik itulah yang tiap hari ‘dijejelkan’ (dipaksa masuk) ke otak anak-anak Indonesia melalui TV. Tidak hanya itu, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan umum bagi masyarakat kita. Yah, penulis sangat merasakan ini. Bingung-bingung-dan-bingung.

Sekarang era persilangan, era pergeseran nilai Ketimuran, budaya Barat (pacaran, ciuman, seks bebas) adalah gaya pacaran yang umum dan lumrah dilakukan para remaja. Pacaran yang di dekade 1990-2005 (hasil pantauan penulis) yang menjadi hal tabu, di tahun 2010 mulai menjadi hal lumrah dan umum untuk dilakukan. Praktek ciuman seolah-olah didemokan atau dikasihkan contoh oleh drama-drama atau movie di TV, lebih kagetnya lagi yang memberi contoh adalah orang timur, hmm.

Sejujurnya saya bingung, entah diatas itu latar belakang yang pas atau tidak untuk tulisan saya ini, namun kondisi diatas benar-benar saya rasakan di lingkungan hidup saya, baik di kampus maupun di rumah. Ini mungkin bentuk pelampiasan saya dengan menyebarkan pandangan tentang kondisi saat ini melalui sebuah tulisan.

Menjadi remaja atau pemuda-pemudi sekarang harus tahan uji melihat kondisi dunia yang semakin edan ini, dunia yang jelas-jelas diaturan tertulis dilarang malah didekati, huuhh. Pemuda-pemudi harus pintar-pintar menjaga diri dari perilaku (gaya hidup) pergaulan yang bebas, miras bebas, rokok bebas sampai bebas bersikap kepada orang tua. Salah satu cara untuk mengatasi itu semua adalah dekat dengan Allah, Rosulullah, orang tua, dan ulama (ahli ilmu baik umum maupun agama). Utamakan mencari ilmu (dunia & akhirat) untuk akhirat, dekat dan menghormati kedua orang tua, serta bergaul dengan ulama sewaktu di perantauan atau di lingkungan sekitar.

Pesan saya adalah jadilah manusia yang baik.

Manusia yang baik itu adalah manusia yang tahu agama, manjaga kehormatannya, tahu dan menghormati sejarah pendahulunya, dan mampu memajukan bangsanya dengan pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya. Mungkin itu salah satu alasan agar remaja atau pemuda-pemudi mau menjaga dirinya dari noda masa muda. Ingat ini, jangan sampai Anda menyesal. Sekian.

~Salam merenung, hmm .

-mhy, 2015

Advertisements
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s