Menulis Sekaligus Plagiat Tanpa Sadar

          Kurang lebih seminggu ini saya merasa gelisah. Gelisah karena apa ? eits jangan mikir aneh-aneh dulu, hehe. Saya gelisah karena tiba-tiba berhenti menulis short paper (yang belakangan saya kasih nama RBL/reseach based learning), kenapa saya pilih nama RBL ? nanti akan saya bahas. Ya, saya awalnya mengira menulis paper atau karya tulis ilmiah itu bisa seenaknya, seenaknya disini maksudnya ya sebisa mungkin orisinil dari kita dan kalau mengutip karya orang lain ya harus dicantumin di karya tulis kita. Eits ternyata saya salah, masih banyak aturan yang harus dipenuhi dalam menulis karya ilmiah itu termasuk bagaimana menghindarkan diri dari sifat PLAGIAT (Plagiarisme). Memang penyakit plagiat  menjadi momok, seolah-olah selalu siap memangsa penulis-penulis yang lengah saat krisis ide dan inovasi melanda.

        RBL (research based learning), ya pasti yang pernah mengenyam pendidikan di ITB tahu apa itu RBL. RBL merupakan bagian dari penilaian mata kuliah Fisika Dasar di TPB ITB, biasanya diberikan menjelang akhir kuliah. Zaman saya dulu sewaktu semester I dapat tema “Balon Udara” sedangkan semester II dapat tema “Senter Kocok”. Kalau di prodi/jurusan saya (Fisika ITB), RBL merupakan makanan wajib hampir tiap akhir kuliah. Ya, jadi abis beres ngumpulin RBL sekalian lah bikin short paper (pikir saya), hitung-hitung investasi belajar nulis buat tugas akhir (skripsi) semester depan (entah depan kapan, haha). Sekaligus mempopulerkan salah satu acara HIMAFI ITB yang mencoba mengenalkan siswa tentang penelitian sains lewat RBL. Cayoo semangat HIMAFI!.

          Menurut mbah Wikipedia yang bersumber dari KBBI, mengatakan bahwa plagiarisme/plagiaris/plagiat adalah suatu tindakan mengambil karya orang lain baik berupa  karangan, pendapat dan sebagainya tanpa ijin serta seolah-olah karya tersebut menjadi karyanya sendiri.  Sebenarnya pemerintah tegas dalam menyikapi plagiarisme ini, seperti salah satunya tertuang dalam UU No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (download disini) dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Perdiknas) No. 12 tahun 2010 (Lihat disini). Namun disayangkan sosialisasi tentang plagiarisme ini masih kurang dan kesadaran mahasiswa yang juga rendah untuk mencari tahu tentang plagiarisme (contohnya saya, hehe) sehingga secara sadar atau tidak sadar masih ditemui plagiarisme disana-sini, khususnya di dunia akademis (saya menemukan ketika download karya tulis yang bertebaran di mbah google).

          Tadi sekitar jam 15.30 WIB, saya pergi ke toko buku Gramedia Bandung deket BEC, awalnya berencana mau beli buku Trik Excel, EILTS dan TOEFL. Eh setelah lihat-lihat kok malah berubah pikiran dan terdiam 30-menitan baca dan mantengin buku yang berjudul “Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa”, saya baca-baca daftar isinya, sssseet wow bagus nih (sambil melirik poin Plagiaris). Saya baca di halamannya, duuhh pikirku ketika melihat penjabaran tentang plagiaris. Hhmmm, ternyata saya masih plagiat (teriakku dalam hati). Ternyata, saya belum bisa dengan baik menuangkan ide orisinil dari pikiran saya, belum mampu mem-paraphase-kan ide orang lain, belum bisa mengutip dengan benar. Hmmm, tersentak saya sadar ah aku mah apa atuh!, tak sengaja terucap lafadz-lafadz shalawat hits anak muda masa kini. Ngomong-ngomong ini edisi merendah lhoo ya, jangan baper ya! apalagi bapir (bawa pikiran), haha.

          Sekitar 10 menit yang lalu, tepatnya selepas shalat tarawih, saya iseng-iseng searching di al-masyayikh mbah professor Google tentang plagiarisme. Sejujurnya saya ingin tahu seperti apa itu plagiarisme mulai dari kepala sampai kakinya, ingin tahu aturan-aturannya, ingin tahu sanksi apa yang dikenai ketika melakukan plagiarisme. Eehh ternyata banyak banget aturan dan tata caranya, hukumannya buerat lagi, hehe, salah satunya bisa dilihat pada UU dan Perdiknas diatas. Sadarlah hei sadarlah Heri! kata mbah Dukun Desa sebelah (tokoh fiksi, jangan percaya).

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. ~Pramoedya Ananta Toer

          Kesadaran akan hal diatas membuat saya buka-buka lagi tulisan yang pernah saya tulis dulu, Hehehe. Lucu, gemes, semua perasaan campur aduk. Hal ini akhirnya memotivasi saya untuk terus belajar menulis, saya yakin seorang penulis handal tidak lahir secara instan, pasti melalui berbagai proses dan latihan (ini kata-kata siapa ya, saya lupa pernah denger dari mana, hehe). Yuk kawan-kawan mulai sekarang coba lihat tulisannya masing-masing, sudah benarkah ? sudah bersihkah dari plagiat ?, kalau belum ayo sama-sama belajar dan saling mengingatkan. Diinget-inget tuh pesannya Pak Pramoedya Ananta Toer, kamu akan hilang dari sejarah manusia kecuali liat kutipan atas.

Yuk menulis dan katakan TIDAK pada PLAGIARISME/PLAGIAT!

Sekian.

Bandung, 17 Juni 2015. -mhy

Advertisements
This entry was posted in Akademik, Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s