Pak Mikra

     Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau. Saya tidak bermaksud menggunjing atau ‘ngerumpi’ tentang beliau. Saya tahu agama saya mengajarkan bahwa menggunjing atau ngomongin tentang jelek orang dibelakangnya itu tidak baik, tapi agama saya membenarkan dan membolehkan kalau kita membicarakan  tentang kebaikan seseorang. Meskipun bagitu, disatu sisi falsafah orang Jawa bilang “Dadi wong iku ojo dumeh, ojo gumunan, ojo kagetan”, artinya jadi orang itu jangan sombong, jangan gampang heran, jangan mudah kaget. Ya, karena saya orang Jawa jadi sedikit banyak mangikuti falasah tersebut, sehingga saya akan menulis sewajarnya saja, hehe.

     Apakah Anda pernah baca qoutes dosen-dosen Fisika ITB ? kalau belum coba cek dulu di obrolan thread Kaskus dimari. Wabil khusus kata-kata Prof. Dr. Eng. Mikrajuddin Abdullah berikut yang sering terlontar ketika beliau mengajar di kelas.

“Ada pertanyaan?”,  (diucapkan Bapak ketika baru masuk kelas). “Saya kadang bingung, kok bisa ada mahasiswa yang mengulang mekanika, TRK (Teori Relativitas Khusus), dan lain-lain lebih dari 2 kali ? padahal itu-itu aja yang dipelajarin dari tahun ke tahun, gak ada yang berubah”. “Kenapa sih mesti ada pelajaran TRK”.”Kenapa sih tidak ada yang mau bertanya ? Apa ujian nanti soalnya berupa jawaban, lalu kalian harus membuat pertanyaan berdasarkan jawaban itu ? “.

Dan seterusnya dan seterusnya, silahkan baca di thread Kaskus diatas.

     Cukup tergambar bukan sikap Pak Mikra ketika di kelas, hehe. Kalau masih ingin tahu sok lihat CV dan profil beliau disini. Hebat bukan!. Pak Gus Pur (alumni Fisika ITB, sekarang jadi dosen ITS) di Facebooknya mengatakan bahwa Pak Mikra itu sewaktu masih SMA bacaannya buku Purcell (buku acuan mata kuliah kalkulus TPB ITB). Wow, Kalau saya sih buku paket SMA jarang ku pegang, haha.

     Saya mengetahui Pak Mikra (red : sapaan beliau di kalangan mahasiswa Fisika) ketika masa orientasi sewaktu baru masuk ITB. Ketika itu Pak Mikra mencoba mengenalkan teknologi nano yang ‘dipercaya’ berguna dan bermanfaat untuk banyak aspek kehidupan kelak di masa depan. Saat beliau memperlihatkan CV-nya di slide, wow (jerit dalam batinku), karya tulisnya banyak banget. Beliau juga adalah peraih Dosen Berprestasi Tingkat Pertama Nasional tahun 2010, Citations beliau di Google Scholar mencapai 1503 lihat disini (wow banyak banget) dan masih banyak lagi prestasi yang sudah beliau raih. Agus Purwanto (Gus Pur) dalam bukunya yang berjudul “Nalar Ayat-ayat Semesta” hal. 263 mengatakan seperti ini :

Buku Nalar Ayat-ayat Semesta Karya Agus Purwanto

Buku Nalar Ayat-ayat Semesta Karya Agus Purwanto. Versi onlinenya bisa dilihat disini.

     Saya bertemu beliau lagi ketika tingkat 3 atau semester 5 dan 6. Kala itu Pak Mikra jadi pengajar mata kuliah Fisika Termal dan Fisika Statistik. Jangan tanya DNA (daftar nilai akhir) saya ya, budaya SARIP masih melekat kental coy (bagi mahasiswa ITB itu tabu alias kagak boleh ketika ngomongin masalah Sara Agama Ras dan IP). Pokoknya alhamdulilah saya lulus. Eits balik ke Pak Mikra. Yaa, Pak Mikra itu adalah dosen teladan, menurutku, dan tak ada yang meragukan itu. Kenapa saya sebut sebagai dosen teladan ?, mungkin salah satunya berupa prestasi beliau tahun 2010 (lihat atas), tapi saya kira masih banyak lagi alasannya. Beliau selalu datang ke kelas tepat waktu, kecuali kalau ada halangan yang pasti misalnya lagi haji atau ada tamu penting. Malahan saya sering terlambat lho, hehe maaf ya Pak.

     Disela-sela mengajar Pak Mikra sering mengasihkan wejangan-wejangan yang membuat mahasiswa melek akan kondisi bangsa yang memprihatinkan. Mahasiswa biasanya diajak berpikir kritis dengan kondisi sekitarnya. Mahasiswa biasanya ‘dipancing’ untuk mengeluarkan solusinya atas masalah tersebut, tetapi terkadang kami, kala itu mahasiswanya berjumlah lebih dari 70-orang, terdiam seribu kata, gegara tidak tahu banyak terkait masalahnya, haha.

Banyak berpikir, tetapi bingung memulai, apa ini tipe orang melankolis ? ~M. Heriyanto

     Saya seorang melankolis, ini didasarkan pada sebuah survei dari calon guru Kesenian saya sewaktu SMA, guru itu bernama Pak Parto. Ya mungkin benar apa kata pepatah kuno bahwa karakter itu sulit diubah, bisa diubah ketika dilatih terus-menerus. Sifat melankolis saya terbawa sampai kuliah, hehe. Ketika mendengar Pak Mikra berwejangan terkait kondisi negeri ini, didalam pikiran saya jadi terbayang-bayang ide-ide ingin melakukan perbaikan disana-sini. Ahh, gimana tho ini, negeri kok kayak gini, kata-kata itu serasa menari-nari di neuron otakku. Hal ini membuat saya menjadi tambah semangat belajar Fisika Statistik, hehe hore. Namun setelah kuliah berakhir, saya jadi kepikiran terus wejangan-wejangan yang disampaikan oleh Pak Mikra, sampai-sampai white board  di kamar kos saya penuh dengan catatan-catatan masalah bangsa dan kamungkinan solusinya versi saya, haha. Mungkin hal ini bukan hanya saya saja yang mengalami, tetapi ada banyak mahasiswa yang melakukan hal sama. Yang membedakan dengan mahasiswa lain, kalau saya, coret-coretan yang ada di white board sampai saat ini masih belum sempat saya ekskusi, hehe, mungkin cuma jadi wacana saja.

     Menurut saya Pak Mikra itu sosok Guru Besar bangsa yang jenius, yang rela berkorban demi bangsanya, bayangkan saja beliau yang dulunya aktif meneliti tentang teknologi nano sekarang berubah haluan dengan meneliti terkait masalah bangsa, terutama yang dapat diaplikasikan atau mengena secara langsung di masyarakat contohnya persoalan air bersih, beliau meneliti bagaimana caranya memperoleh air tawar dari air laut secara murah dan praktis, meneliti pembersihan air kotor di sungai kota secara praktis dan lain-lainnya yang masih banyak lagi. Bukan hanya itu, beliau dengan suka rela membagikan karyanya (buku atau ebook) kepada mahasiswa dan bagi yang membutuhkan, dengan harapan bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Alasan beliau melakukan itu ketika ditanya seorang mahasiswa sewaktu di kelas, katanya beliau ingin bermanfaat langsung untuk bangsa, menjadi seorang peneliti yang solutif akan masalah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Wow, mulia sekali bukan ?. Saya bersyukur bisa bertemu dengan beliau dan dapat mendengarkan wejangan-wejangan serta pemikiran beliau mengenai bangsa ini, Alhamdulilah.

      Saya ingat betul, ketika Pak Mikra bilang, yang kurang lebihnya sebagai berikut “Kamu kalau sudah lulus pikirannya jangan bekerja untuk orang asing (perusahaan asing) saja, kan biasanya mahasiswa ITB itu kepinginnya bekerja di perusahaan asing yang gajinya tinggi kan ?, kalau kamu semua bekerja untuk perusahaan asing terus siapa yang mau berkorban memperbaiki dan mendidik bangsa Indonesia ini?, padahal mereka yang belajar di ITB ditugaskan untuk memperbaiki masalah bangsa, mereka butuh kamu!”.

     Saya juga ingat, beliau itu sangat tidak suka kalau bangsa Indonesia di rendahkan oleh bangsa lain, contoh salah satunya ketika pendidikan di ITB dibanding-bandingkan dengan NUS (National University of Singapore), beliau mengatakan tidak fair jika ITB yang anggaran penelitian kecil (Rp. 50 juta per proposal, lihat disini) dibandingkan dengan NUS yang anggaran penelitiannya selangit ($ 500 million, lihat disini). Saya sangat setuju dengan beliau, dosen Indonesia itu hebat, dengan anggaran penelitian seadanya tapi mampu menerbitkan journal ilmiah tingkat internasional, wow keren. Selain itu beliau mendorong agar mahasiswa Indonesia itu percaya diri, menunjukkan kualitas dosen di Indonesia itu sama dengan di luar negeri, jadi ketika ada exchange (red : pertukaran pelajar) jangan cuma mahasiswa Indonesia saja yang belajar ke Professor luar negeri tetapi juga seharusnya mahasiswa luar negeri belajar ke Professor Indonesia.

     Saya kira semua setuju jika Prof. Dr. Eng. Mikrajuddin Abdullah dijadikan panutan dan idola bagi generasi muda saat ini. Semangat belajar wahai generasi muda dan semangat membangun negeri agar labih baik lagi, masa depan bangsa ini ada di tangan kita!. Merdeka! Maju! Sejahtera!.

Sekian.

Bandung, 18 Juni 2015. -mhy

Advertisements
This entry was posted in ITB, Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s