Mencari Guru Agama Jaman Now?

Tulisan ini ada karena kegelisahan penulis di media sosial terhadap ustadz-ustadz viral dan hits jaman now yang sedang dielu-elukan warganet, yang beberapa kali membuat ‘gaduh’ dunia ke-alay-an medsos, baik karena berita hoax tentangnya ataupun ucapan ‘kepleset’ yang terlontar dari lisannya. Sekaligus sebagai tempat mengarsipkan momen geliat Islam di Indonesia periode pilkada-pilpres 2017-2018-2019.

Tujuannya, seperti yang tertera dalam judul yaitu agar pembaca yang awam agama Islam bisa menambah wawasan dalam pemilihan guru agama yang fatwanya bisa dijadikan pedoman hidup dan bersikap. Sehingga tidak terlalu serius (bahkan mengalirkan darah) ketika ada yang mengaku ustadz kemudian berfatwa politis dan terindikasi memecah belah umat untuk kepentingan golongannya ketika musim perebutan kekuasaan ini.

Dimulai dari Jokowi menjadi Presiden yang sah tahun 2014, sehingga menimbulkan polarisasi diantara masyarakat. Dunia nyata melihat ada koalisi merah putih (KMP) barisan pendukung Prabowo-Hatta dan koalisi indonesia hebat (KIH) barisan pendukung Jokowi-JK. Sedangkan dunia maya merekam kelompok Pro-Jokowi (jokower, cebonger, abu janda, dll) dan kutub lawannya yaitu Kontra-Jokowi (sumbu pendek, bumi datar, jonru, dll). Kemudian disusul fenomena Ahok, yang sebelum pilkada DKI elektabilitas nya dari berbagai survei sangat tinggi, bahkan sempat akan maju lewat jalur independen dalam Pilkada DKI namun akhirnya meninggalkan polarisasi juga di dunia maya, kelompok Pro-Ahok (ahokers, bani taplak/serbet, dll) dengan kelompok Kontra-Ahok (bani daster, dll). Tidak bisa dipungkiri bahwa Ahok dikalahkan dengan isu penistaan agama, sehingga di masyarakat timbul juga polarisasi antara muslim dan non-muslim, antara muslim pro dan kontra Ahok. Sampai timbul fenomena tidak mensholatkan muslim yang memilih Ahok, padahal hanya berbeda dalam pandangan politik. Nauzubillah.

Seramnya ketika agama dipakai sebagai komoditas politik. Politik yang diharapkan disambut dengan gembira menjadi seram karena berurusan dengan keyakinan, kalau berbeda dianggap kafir dan halal darahnya. Sehingga Kementrian Agama mengusulkan untuk dilakukan sertifikasi ustadz, dan menurut kami ini baik. Setiap muslim berhak mengajak kebaikan, namun untuk berfatwa tentang hukum agama eits tunggu dulu, lihat kemampuan muslim tersebut, sesuai kriteria atau belum. Apalagi kalau fatwanya dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat, wah bisa bahaya ini.

Menurut hemat kami, terlepas dari kriteria yang tertera dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab kuning. Kriteria memilih guru agama yang fatwanya bisa dijadikan pedoman dan pandangan hidup adalah
1) memiliki SERTIPIKAT keilmuan agama yang mumpuni baik formal atau salaf,
2) mempunyai TRACK RECORD akhlak yang baik,
3) BALUNG TUO: Pengabdian sosial dan pengajaran agama di masyarakat sangat lama. Biasanya merupakan pengasuh pesantren atau yayasan Islam. Bukanlah ustadz ‘karbitan’ dan ‘labil’ karena memang sudah belajar dan mengajar sangat lama di pesantren sehingga konsisten terhadap fatwa-fatwa yang diucapkannya. Alhasil fatwa atau nasehatnya dapat menentramkan umat.

Teknologi pencari jaman now a.k.a Google begitu dahsyatnya. Rekam jejak digital seseorang bisa dicari dengan gampangnya, sehingga SERTIPIKAT keilmuan, TRACK RECORD akhlak, dan BALUNG TUO seseorang bisa dicari dan dinilai sendiri oleh warganet. Jadi kriteria diatas bisa dipakai dengan mudahnya kan ya.

Kriteria diatas lahir dari perenungan setelah melihat fenomena di beranda Facebook penulis yang berisi berita-berita media online mainstream tanah air, terkait penafsiran surat al-Maidah ayat 51. Banyak orang yang menafsirkan ayat ini, padahal bukan kapasitasnya. Maka lahirlah laman Kitab Tafsir al-Qur’an 30 Juz Karya Ulama Nusantara di website penulis, agar pembaca yang awam terhadap ilmu tafsir bisa membaca tafsir al-Qur’an langsung dari ulama-ulama ahli tafsir asal Indonesia. Lahir juga laman Orang (asal) Nusantara yang Berpendidikan Tinggi di Bidang Tafsir al-Qur’an, yang tujuannya untuk menunjukkan pakar tafsir al-Qur’an jaman now dari Indonesia, yang pendidikan formal S1, S2, dan S3 linier jurusan Tafsir al-Qur’an.

Terakhir pesan dari penulis untuk diri penulis dan mungkin para pembaca, mari berpolitik dengan cerdas dan sehat. Berpolitik dengan nafas dan spirit agama sehingga hal-hal yang dilarang agama tidak dilakukan dalam politik (misalnya korupsi, suap-menyuap, membuka aib saudara, dan lain-lain). Jangan sampai menjual (ayat-ayat) agama untuk kepentingan politik. Pilih pemimpin sesuai hati nurani dan rasionalitas Anda atas program-program yang dipaparkan.

Malang, 7 Januari 2018
– mhy

Advertisements
This entry was posted in Islam, Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s