Maulidmu, Muhammadku

Banyak orang bid’ahkan maulidmu,
tapi meriahkan ultah, harlah, miladnya,
itu tak akan mengurangi keagunganmu, bukan?
tanpamu apa mungkin semesta ini ada?

Bersamaan semua mahluk bertasbih pada Tuhan,
Tuhan dan malaikat pun bershalawat padamu,
mengajak pengiman kitab suci tuk bershalawat bersama-Nya,
menciptakan keseimbangan lahiriyah dan batiniyah.

Setiap beribadah kami mengucapkan salam padamu,
dan tentunya engkau balas satu per satu,
menetramkan, menyeimbangkan rohani yang gundah,
membuat yang sulit-runyam jadi mudah dan indah.

Seberapa pun sholehnya mahluk,
mana berani menagih surga pada Sang Pencipta,
semua mahluk hanya berharapkan syafaatmu,
serta berharap ridha dan fadhal-Nya,
dikumpulkan di syurga-Nya kelak,
bersamamu dan mahluk-mahluk baik lainnya.

Selamat Maulid Sayyidina Muhammad SAW,
shalawat serta salam selalu tercurahkan padamu,
dari pengaku umatmu yang nakal ini.

Jakarta, 20 November 2018
– mhy

Advertisements
Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Nafsu Akut Berkuasa

Belakangan banyak fenomena,
mulai prahara operasi plastik Ratna,
sampai tarik-ulur definisi bendera.
Digoreng oposisi-petahana serta liputan media,
menggelorakan nafsu akut berkuasa,
karena pemilu akan tiba.

Permasalahan kecil biasa,
dijadikan isu besar bak bencana.
Goreng isu dibumbui hoax sampai jadi sara,
jadi hal biasa lumrah adanya.
Padahal rawan memecah-belah bangsa.

Kita hidup di katulistiwa,
tempat ring of fire rawan bencana.
Bencana malah digoreng seenaknya,
menyalahkan berbagai pihak diluar sana,
dijadikannya isu untuk menggulingkan penguasa.
Bukan introspeksi diri dan berangkulan bersama.
Apa ini sebab marahnya Pencipta semesta?

Akhirnya disetiap pesta gorengan dihentikan,
semua pihak cuci tangan,
tak mau bertanggung jawab malah berpangku tangan.
Kasihan pihak minoritas itu terpinggirkan,
jadilah cuci piring sendirian,
dituntut mempertanggungjawabkan sendiri perbuatan.

Semua isu dikaitkan dengan agama,
Tuhan dibawa-bawa nafsu berkuasa.
Semua masalah solusinya ganti penguasa.
Beda pilihan politik dikira mendustakan agama,
padahal itu semua,
bagi politikus, menyalurkan syahwat berkuasa,
bagi rakyat, hanya perayaan lima tahun semata.

Penguasa sah, bertindaklah bijaksana.
Rakyat jelata bisa bedakan mana kerja,
mana yang hanya hoax atau bualan saja.
Bekerjalah dengan jujur dan bersih,
jangan buang energi untuk hal yang tak pasti.
Berkatalah yang bisa diteladani,
agar komisi etik dan kapeka tak menghantui.

Efek bernafsu akut untuk berkuasa,
adalah menghalalkan segala cara,
lupa meletakkan kemaluan entah dimana.
Efek membenci orangnya,
bukan malah sifat buruknya,
adalah tak tahu ditaruh dimana itu muka,
meski kemaluan diumbar kemana-mana.

Jakarta, 10 November 2018
– mhy

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Hasil Ijtima’ UBARU

Setelah Ijtima’ ULAMA 212 di Jakarta mengeluarkan fatwa politiknya dan Bahtsul Masail Waqi’iyah ULAMA NU di Lirboyo Kediri mengeluarkan fatwa haram menonton tayangan “Karma” di salah satu TV Swasta Nasional. Kemudian MUI Sumbar dan akar-rumput suatu partai menolak Islam Nusantara secara membabi-buta, padahal bisa dikritisi secara ilmiah. Memang adu kritik tentang suatu konsep bisa dilakukan, asalkan didasarkan pada landasan yang metodologinya jelas. Lebih baik lagi kalau sampai bisa menelurkan publikasi ilmiah.

Berdasarkan fenomena diatas tersebut, kami dari UBARU yang kebetulan ikut muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Jombang –sebagai penggembira muktamar dan Kaum Muda Nahdlatul Ulama (KMNU)– yang mengusung tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” merasa tergerak dan terpanggil untuk menjelaskan ke masyarakat. Namun kami menyadari, bidang keilmuan kami memang terbatas dan bukan pada Studi Islam, sehingga kami hanya sebatas menghimpun Karya Ilmiah mengenai Islam Nusantara, untuk mempermudah mempelajari, menelaah, dan mengkritisi secara ilmiah tentang konsep Islam (di) Nusantara.

Simaklah catatan persajakan, yang bukan perpajakan berikut:
Tingkat literasi meningkat,
Kemendikbud senang.
Jumlah riset dan publikasi ilmiah meningkat,
Kemenristek dikti girang.

Masyarakat jadi pintar,
tidak banyak ujaran kebencian di medsos,
Kominfo acungkan jempol kanan.

Masyarakat semangat meningkatkan pendidikan,
kesempatan kerja terbuka,
entrepreneur menjamur,
Kemnaker tersenyum.

Pengangguran sedikit,
masyarakat berkehidupan yang cukup,
kemiskinan berkurang,
Kemensos nyaman.

Masyarakat terdidik,
berpola hidup sehat,
angka kematian dini dan anak kurang gizi bisa ditekan,
Kemenkes sumringah.

Indonesia aman dari radikalis,
seperti ISIS, al-Qaeda wa furu’ihim,
TNI dan Polri berangkulan bahagia.

Indonesia beradap dan berintegritas,
ilmuwan berpikiran ilmiah,
agamawan berilmu agama yang mendalam,
pemerintah adil dan malayani rakyat,
hasilnya peradaban maju,
dan jadi pusat percontohan peradaban dunia.

Jakarta, 2 Agustus 2018
– mhy

Posted in Islam, Opini, Puisi | Tagged , | Leave a comment

Katanya Tapi

Katanya mengaku terhormat,
tapi sidang aja banyak yang terlambat.

Katanya mengaku penentu takdir,
tapi sidang banyak yang tak hadir.

Katanya mengaku pintar dan mumpuni,
tapi tak dengar dan minim prestasi.

Katanya lagi sibuk mengkaji,
tapi banyak buat berita sensasi.

Katanya sibuk merumuskan anggaran,
tapi banyak korupsi dan pelanggaran.

Katanya penyerapan anggaran kerja minim,
tapi memang buktinya kinerjanya minim.

Katanya pembuat peraturan suatu masalah,
tapi sering diberitakan buat masalah.

Katanya juru pilih dan uji kelayakan,
tapi masuknya bebas dipilih dan tanpa ujian.

Jakarta, 26 Juli 2018
– mhy

Posted in Opini, Puisi | Tagged , | Leave a comment

Broker Minyak

Cita-citaku ingin jadi broker,
punya tawanan yang keker,
tak takut siapapun saat kunker,
buat penguasa jadi keder.

Itulah aku kisanak,
sang broker minyak,
buang uang karena saking banyak,
mengguyur politikus dan penguasa,
di negeri yang konon jadikan hukum utama.

Itulah diriku suatu saat nanti,
mampu sembunyikan warna-warni,
rasa takut dan ketidakpastian diri,
disorot mata para politisi,
yang tak tahu diri.

Jakarta, 25 Juli 2018
– mhy untuk broker minyak

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Penguasa?

Negeri seberang sana,
sedang ribut pemilukada,
berebut kuasa negara,
memanfaatkan rakyat jelata,
untuk menuju istana.

Politikus akan berkuasa,
pajak dikumpulkan semua,
dengan segala retorika,
untuk membangun bangsa,
menuju kemajuan sepanjang masa,
sewaktu kampanye di media.

Akhirnya berkuasa,
makelar dan mafia mengelilinginya,
pendukung ingin unjuk rupa,
berebut proyek tiada tara,
lobi pembuat aturan hingga pengusaha,
sungguh luar biasa saudara.

Negarawan atau penguasa?
bertingkah layaknya raja,
foya-foya di singgasana,
seolah memimpin selamanya,
dan lupa akan rakyatnya.

Penguasa turun tahta,
satu per satu digelandang kapeka,
bobrok penguasa terbongkar media,
duh ngeri sedap ternyata,
para politikus mengatur rencana,
supaya lolos dan bersih namanya.

Masa depan menyapa,
pada banyak anak muda,
mau disituasi yang sama?
atau galang perubahan bersama?
Ayo anak muda!
Tunjukkan kalau perubahan akan ada,
dan saat itu telah tiba.

Jakarta, 30 April 2018
– mhy dalam perjalanan dari Simprug ke Rawa Buaya

Posted in Opini, Puisi | Tagged | Leave a comment

Masa Lalu

Biarlah masa lalu,
menjadi kenangan yang berlalu,
menempa segala perilaku,
untuk jadi yang baru.

Tak ada masa depan,
tanpa masa lalu yang menyadarkan,
kedepan akan jadi persoalan,
memeras tenaga dan pikiran.

Masa lalu jangan dihakimi,
dengan segala bijaksanaan masa kini,
tanpanya apalah arti diri,
mengulang-ulang hal yang tak berarti.

Jakarta, 28 April 2018
– mhy

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Kowor Pun Bicara 

Ketika politikus bicara,
kowor pun menutup telinga,
Ketika negarawan bersuara,
kowor pun membuka lebar semua indera.

Ketika pemimpin memerintah,
kowor pun mengkritik disertai fakta,
Ketika jelata meronta-ronta,
kowor pun bersuara karena simpati dan iba.

Ketika agamawan berfatwa,
kowor pun siap patuh ikutserta,
Ketika ilmuwan berseminar ilmiah,
kowor pun merangkai narasi dengan data.

Ketika novelis bercerita tulisannya,
kowor pun mengimajinasikannya dalam maya,
Ketika jurnalis menyampaikan berita,
kowor pun terdiam, benar adanya?

Ketika mahasiswa berunjuk rasa,
kowor pun belajar idealisme kala muda,
Ketika santri berdebat di lailatul ijtima’,
kowor pun terinspirasi tafsir semesta.

Ketika seniman melukis karya,
kowor pun banyak menggali makna,
Ketika sastrawan menyebar tulisan bernada,
kowor pun menyiapkan perasa,
menikmati indahnya irama.

Jakarta, 27 April 2018
– mhy di halte Kebayoran Lama Bungur

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

NU Kini

Secara stuktural kami bukan anggota ormas ini,
sedari MI kagum dengan lima prinsip yang dithariqahi,
visioner kedepan menjaga keseimbangan negeri,
dengan toleransi dan kebaruan yang berarti,
dan kini itu tidak hanya mimpi,
tapi sudah menjadi bukti.

Sangat kagum dan hormat taat pada para Kiai,
pengabdian masyarakat sudah kesana-kemari,
tak peduli dengan gaji yang diberi,
tak habis pikir dengan kerendahan hati,
kesederhanaan dan kesahajaan diri,
kelembutan hati, ketajaman batin hingga emosi,
mengingatkan pada akhlak sufi dan Rosulillahi.

Banyak alumni pesantren disini,
dari pelosok-pelosok negeri,
dari awam hingga ahli akademi,
dari agamawan hingga budayawati,
teknokrat hingga peneliti.

Dulu santri kalong tak sadar diri,
sekarang ingin memberi arti,
berkontribusi membangun negeri,
jadi generasi pemberi solusi,
bukan pencaci maki,
iya dari berbagai bidang dan lini.

NU kini,
semoga solid tak terurai, melerai tanpa bertikai,
mengabdi tiada henti, menjaga tiada pamrih,
tak ikut politik komisi yang hanya berebut kursi,
tetap rajin mengkritisi dan banyak memberi solusi,
terus jadi pemaaf meski sering disakiti,
menjaga damai dan indahnya negeri,
berbeda pasti tapi tetap menuju satu titik ruhani,
bersama menggapai ridha dan fadhal ilahi.

Jakarta, 8 April 2018
– mhy untuk Harlah NU ke-95 tahun

NU

Posted in Islam, Puisi | Tagged , | Leave a comment

Awamku Melihat Suriah

Selain untuk mendukung status facebook kami sebelumnya [Sudah bisa ditebak dari dulu sih. Ini bukan soal Sunni-Syiah. Tapi ‘harta terpendam strategis’ di Syria a.k.a Suriah. #SaveSyria. Facebook, 2018-04-14]. Kegemesan kami yang menganggap konflik utama Suriah adalah konflik sektarian Sunni-Syiah saja, padahal benang merahnya sudah terlihat jelas . Kami akhiri dengan catatan kecil ini (kami beri nama “Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang“), karena harus fokus ngoding lagi, huhu. Kalau ada saran, kritik atau bantahan silahkan, adu argumentasi secara ilmiah. Jangan lupa rujuk sebanyak-banyaknya, karena DOI di platform ini sedang kami cek statistical impact factor-nya, haha.

Sejujurnya kalau mengingat Suriah, kami teringat idola kami. Saat itu lagi kesemsem dengan beliau, sewaktu masih aktif di Pesantren Mahasiswa Salman tahun 2013, ya Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Bouti. Sejarah mengatakan beliau dibunuh jihadis sewaktu mengajar ta’lim di Masjid al-Iman Damaskus, dan saat itu kami menangis sewaktu melihat video detik-detik terbunuhnya beliau. Makanya dulu jadi dendam sama kelompok jihadis. Namun berkat sering mendengarkan kajian Hikam, alhamdulilah udah kebal sekarang sama yang namanya jihadis, karena kami cinta kalian .

Pesan:
Perdebatan pemerintah dengan oposisi yang berdasarkan data,
itu baik adanya untuk kemajuan bangsa.

Ketika ada yang salah disalah-satunya,
saling memaafkan dan pengertian kuncinya.

Asal jangan mau diadu-domba negara adidaya,
sampai ada pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Cukup ambil pelajaran dari negeri seberang,
kalah bersaing ekonomi dan politik dagang,
isu SARA dilontarkan,
dan akhirnya memprovokasi perang.

Jakarta, 20 April 2018.
– mhy yang bukanlah ahli politik Timur Tengah, dia hanya seorang rakyat jelata di Komunitas Tasawuf Politik, cuma menyampaikan berita dan data yang disertai beberapa pendapat yang menurut nuraninya benar. Tolong jangan dipercaya pendapatnya, tapi renungi data-datanya, masukkan dalam hati, enak rasanya? ambilah keputusan sesuai nurani dan keyakinanmu.

Rujuk artikel Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang
dengan sebagai:
Mohammad Heriyanto. (2018). Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang (Version 0.0.1). http://doi.org/10.5281/zenodo.1221450

Posted in Islam, Opini | Tagged , | Leave a comment