Penguasa?

Negeri seberang sana,
sedang ribut pemilukada,
berebut kuasa negara,
memanfaatkan rakyat jelata,
untuk menuju istana.

Politikus akan berkuasa,
pajak dikumpulkan semua,
dengan segala retorika,
untuk membangun bangsa,
menuju kemajuan sepanjang masa,
sewaktu kampanye di media.

Akhirnya berkuasa,
makelar dan mafia mengelilinginya,
pendukung ingin unjuk rupa,
berebut proyek tiada tara,
lobi pembuat aturan hingga pengusaha,
sungguh luar biasa saudara.

Negarawan atau penguasa?
bertingkah layaknya raja,
foya-foya di singgasana,
seolah memimpin selamanya,
dan lupa akan rakyatnya.

Penguasa turun tahta,
satu per satu digelandang kapeka,
bobrok penguasa terbongkar media,
duh ngeri sedap ternyata,
para politikus mengatur rencana,
supaya lolos dan bersih namanya.

Masa depan menyapa,
pada banyak anak muda,
mau disituasi yang sama?
atau galang perubahan bersama?
Ayo anak muda!
Tunjukkan kalau perubahan akan ada,
dan saat itu telah tiba.

Jakarta, 30 April 2018
– mhy dalam perjalanan dari Simprug ke Rawa Buaya

Advertisements
Posted in Opini, Puisi | Tagged | Leave a comment

Masa Lalu

Biarlah masa lalu,
menjadi kenangan yang berlalu,
menempa segala perilaku,
untuk jadi yang baru.

Tak ada masa depan,
tanpa masa lalu yang menyadarkan,
kedepan akan jadi persoalan,
memeras tenaga dan pikiran.

Masa lalu jangan dihakimi,
dengan segala bijaksanaan masa kini,
tanpanya apalah arti diri,
mengulang-ulang hal yang tak berarti.

Jakarta, 28 April 2018
– mhy

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Kowor Pun Bicara 

Ketika politikus bicara,
kowor pun menutup telinga,
Ketika negarawan bersuara,
kowor pun membuka lebar semua indera.

Ketika pemimpin memerintah,
kowor pun mengkritik disertai fakta,
Ketika jelata meronta-ronta,
kowor pun bersuara karena simpati dan iba.

Ketika agamawan berfatwa,
kowor pun siap patuh ikutserta,
Ketika ilmuwan berseminar ilmiah,
kowor pun merangkai narasi dengan data.

Ketika novelis bercerita tulisannya,
kowor pun mengimajinasikannya dalam maya,
Ketika jurnalis menyampaikan berita,
kowor pun terdiam, benar adanya?

Ketika mahasiswa berunjuk rasa,
kowor pun belajar idealisme kala muda,
Ketika santri berdebat di lailatul ijtima’,
kowor pun terinspirasi tafsir semesta.

Ketika seniman melukis karya,
kowor pun banyak menggali makna,
Ketika sastrawan menyebar tulisan bernada,
kowor pun menyiapkan perasa,
menikmati indahnya irama.

Jakarta, 27 April 2018
– mhy di halte Kebayoran Lama Bungur

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

NU Kini

Secara stuktural kami bukan anggota ormas ini,
sedari MI kagum dengan lima prinsip yang dithariqahi,
visioner kedepan menjaga keseimbangan negeri,
dengan toleransi dan kebaruan yang berarti,
dan kini itu tidak hanya mimpi,
tapi sudah menjadi bukti.

Sangat kagum dan hormat taat pada para Kiai,
pengabdian masyarakat sudah kesana-kemari,
tak peduli dengan gaji yang diberi,
tak habis pikir dengan kerendahan hati,
kesederhanaan dan kesahajaan diri,
kelembutan hati, ketajaman batin hingga emosi,
mengingatkan pada akhlak sufi dan Rosulillahi.

Banyak alumni pesantren disini,
dari pelosok-pelosok negeri,
dari awam hingga ahli akademi,
dari agamawan hingga budayawati,
teknokrat hingga peneliti.

Dulu santri kalong tak sadar diri,
sekarang ingin memberi arti,
berkontribusi membangun negeri,
jadi generasi pemberi solusi,
bukan pencaci maki,
iya dari berbagai bidang dan lini.

NU kini,
semoga solid tak terurai, melerai tanpa bertikai,
mengabdi tiada henti, menjaga tiada pamrih,
tak ikut politik komisi yang hanya berebut kursi,
tetap rajin mengkritisi dan banyak memberi solusi,
terus jadi pemaaf meski sering disakiti,
menjaga damai dan indahnya negeri,
berbeda pasti tapi tetap menuju satu titik ruhani,
bersama menggapai ridha dan fadhal ilahi.

Jakarta, 8 April 2018
– mhy untuk Harlah NU ke-95 tahun

NU

Posted in Islam, Puisi | Tagged , | Leave a comment

Awamku Melihat Suriah

Selain untuk mendukung status facebook kami sebelumnya [Sudah bisa ditebak dari dulu sih. Ini bukan soal Sunni-Syiah. Tapi ‘harta terpendam strategis’ di Syria a.k.a Suriah. #SaveSyria. Facebook, 2018-04-14]. Kegemesan kami yang menganggap konflik utama Suriah adalah konflik sektarian Sunni-Syiah saja, padahal benang merahnya sudah terlihat jelas . Kami akhiri dengan catatan kecil ini (kami beri nama “Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang“), karena harus fokus ngoding lagi, huhu. Kalau ada saran, kritik atau bantahan silahkan, adu argumentasi secara ilmiah. Jangan lupa rujuk sebanyak-banyaknya, karena DOI di platform ini sedang kami cek statistical impact factor-nya, haha.

Sejujurnya kalau mengingat Suriah, kami teringat idola kami. Saat itu lagi kesemsem dengan beliau, sewaktu masih aktif di Pesantren Mahasiswa Salman tahun 2013, ya Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Bouti. Sejarah mengatakan beliau dibunuh jihadis sewaktu mengajar ta’lim di Masjid al-Iman Damaskus, dan saat itu kami menangis sewaktu melihat video detik-detik terbunuhnya beliau. Makanya dulu jadi dendam sama kelompok jihadis. Namun berkat sering mendengarkan kajian Hikam, alhamdulilah udah kebal sekarang sama yang namanya jihadis, karena kami cinta kalian .

Pesan:
Perdebatan pemerintah dengan oposisi yang berdasarkan data,
itu baik adanya untuk kemajuan bangsa.

Ketika ada yang salah disalah-satunya,
saling memaafkan dan pengertian kuncinya.

Asal jangan mau diadu-domba negara adidaya,
sampai ada pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Cukup ambil pelajaran dari negeri seberang,
kalah bersaing ekonomi dan politik dagang,
isu SARA dilontarkan,
dan akhirnya memprovokasi perang.

Jakarta, 20 April 2018.
– mhy yang bukanlah ahli politik Timur Tengah, dia hanya seorang rakyat jelata di Komunitas Tasawuf Politik, cuma menyampaikan berita dan data yang disertai beberapa pendapat yang menurut nuraninya benar. Tolong jangan dipercaya pendapatnya, tapi renungi data-datanya, masukkan dalam hati, enak rasanya? ambilah keputusan sesuai nurani dan keyakinanmu.

Rujuk artikel Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang
dengan sebagai:
Mohammad Heriyanto. (2018). Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang (Version 0.0.1). http://doi.org/10.5281/zenodo.1221450

Posted in Islam, Opini | Tagged , | Leave a comment

Politik, Pemilu, dan Penguasa

Jika politik itu kotor, integritas akan membersihkannya.
Jika politik itu bau, cinta negeri akan mengharumkannya.
Jika politik itu bengkok, tasawuf akan meluruskannya.
Jika politik itu ajang cari komisi, ingat Tuhan akan menyadarkannya.

Jika pemilu itu obralan janji palsu, kreativitas dan inovasi akan mengalahkannya.
Jika pemilu itu hanya rebutan kekuasaan, negarawan akan menghapusnya.
Jika pemilu itu deal-dealan proyek, kpk siap menggiringnya.
Jika pemilu itu wahana perpecahan, cinta kasih manusia akan menyatukannya.

Jika penguasa itu korup, catatan track record akan menakutinya.
Jika penguasa itu lalim, kemanusiaan akan menghentikannya.
Jika penguasa itu tak punya malu, sanksi sosial akan menyadarkannya.
Jika penguasa itu tak visioner, sejarah akan menenggelamkannya.

Jakarta, 17 April 2018
– mhy setelah membaca kutipan tulisan J. F. Kennedy

Posted in Opini, Puisi | Tagged | Leave a comment

Sederhana Begitu

Seminggu lebih ku pantau,
amati pelajari dikau,
ku banyak meninjau,
dan akhirnya terpukau,
meski tak banyak menghimbau,
tapi banyak mutiara berkilau,
kemilau pengetahuan jadi terjangkau.

Muda alay menggebu,
lekuk tubuh terlihat tapi berbaju,
punya malu?
atau ikut tren masa lalu?
kok hobi meniru?
ah jangan seperti itu.

Citra baru,
mewah elegan tak melulu,
dengan justifikasi diri tak mutu,
banyak harta diaku, naik jatayu selalu,
selfi sana-sini tunjuk barang baru,
dan sekarang itu tak berlaku.

Tren baru,
muda sederhana tapi berilmu,
pendidikan tinggi habis disapu,
argumen-argumen ilmiah diadu,
ubah obyek pamer di medsosmu.

Sekarang itu,
otak dan hati harus bersatu,
logika dan akhlak serasi berpadu,
cerdas dan integritas jadikan mutu,
selesaikan masalah dengan ilmu.

Sekarang itu,
Tua jadikan guru,
Muda diadu data dan ilmu,
tak jadi pengganggu,
tak sampai berseteru,
apalagi jadi perusuh tak punya malu,
pemimpin muda bersahaja idola setiap waktu.

Jakarta, 15 April 2018
– mhy

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Menteri Mei

Cita-citaku, di bulan Mei,
aku ingin jadi seorang menteri,
menteri dan juga politisi,
suka lobi sana-sini,
sampai alumni university,
minim kinerja tapi banyak aksi,
yang penting air surgawi,
mengalir deras di saku pribadi,
dalam sunyi, jauh dari berita tivi.

Enaknya jadi menteri,
di negeri imajinasi,
menteri sejati, tak pernah berhenti,
mengalahkan para staf ahli,
mondar-mandir ngurus masalah negeri,
meski bukan bidangnya resmi,
mengalahkan pencitraan rezim tirani.

Catatan ini,
dibuat di depan Gandaria City,
dengan duduk di kursi,
menunggu busway menghampiri,
mengimajinasi kursi empuk menteri,
tiap hari, di negeri imajinasi,
dijemput pajero atau lamborgini.

Jakarta, 6 April 2018
– mhy

Posted in Opini, Puisi | Tagged , | Leave a comment

Sensasi 2018

Pada tahun politik ini,
jelata sampai elit ingin unjuk gigi,
menebar sensasi sana-sini.

Sensasi yang menembus toleransi,
acuh pada norma, agama, dan logika akademik,
duh miris sekali.

Tak tahu malu menawarkan diri,
jualan kesana-kemari tanpa mawas diri,
seolah lupa akan background diri.

Viral dan trending topik jadi ukuran populer di era teknologi,
menaikkan elektabilitas dengan memperbanyak sensasi,
agar dipinang si pemilik kursi.

Pemilik kursi lobi sana-sini,
komunikasi untuk mengamankan kursi,
memang tak adakah transaksi?
begitukah citra demokrasi?

Demokrasi,
perebutan kekuasaan 5 tahun sekali,
itu fokus utama politisi, bukan negarawan sejati,
inikah yang harus dikuti?

Penonton bersorak-sorai mengamati,
kecerdasan dan logika benar-benar diuji,
keyakinan dan akal harus serasi,
emosi ditahan agar tak lari,
agar tak salah lagi mengamanahkan kursi.

Kalau salah lagi?
5 tahun kedepan akan banyak ketawa-ketiwi,
akan banyak berita dagelan politik dari para pemilik kursi,
memang sungguh lucunya negeri ini.

Catatan ini,
hanya untuk renungan pribadi,
pengingat agar tak lupa diri,
dan tak membikin gaduh negeri indah ini.
Sekian dan terima kasih.

Jakarta, 4 April 2018
– mhy

Posted in Opini, Puisi | Tagged | Leave a comment

Mencari Guru Agama Jaman Now?

Tulisan ini ada karena kegelisahan penulis di media sosial terhadap ustadz-ustadz viral dan hits jaman now yang sedang dielu-elukan warganet, yang beberapa kali membuat ‘gaduh’ dunia ke-alay-an medsos, baik karena berita hoax tentangnya ataupun ucapan ‘kepleset’ yang terlontar dari lisannya. Sekaligus sebagai tempat mengarsipkan momen geliat Islam di Indonesia periode pilkada-pilpres 2017-2018-2019.

Tujuannya, seperti yang tertera dalam judul yaitu agar pembaca yang awam agama Islam bisa menambah wawasan dalam pemilihan guru agama yang fatwanya bisa dijadikan pedoman hidup dan bersikap. Sehingga tidak terlalu serius (bahkan mengalirkan darah) ketika ada yang mengaku ustadz kemudian berfatwa politis dan terindikasi memecah belah umat untuk kepentingan golongannya ketika musim perebutan kekuasaan ini.

Dimulai dari Jokowi menjadi Presiden yang sah tahun 2014, sehingga menimbulkan polarisasi diantara masyarakat. Dunia nyata melihat ada koalisi merah putih (KMP) barisan pendukung Prabowo-Hatta dan koalisi indonesia hebat (KIH) barisan pendukung Jokowi-JK. Sedangkan dunia maya merekam kelompok Pro-Jokowi (jokower, cebonger, abu janda, dll) dan kutub lawannya yaitu Kontra-Jokowi (sumbu pendek, bumi datar, jonru, dll). Kemudian disusul fenomena Ahok, yang sebelum pilkada DKI elektabilitas nya dari berbagai survei sangat tinggi, bahkan sempat akan maju lewat jalur independen dalam Pilkada DKI namun akhirnya meninggalkan polarisasi juga di dunia maya, kelompok Pro-Ahok (ahokers, bani taplak/serbet, dll) dengan kelompok Kontra-Ahok (bani daster, dll). Tidak bisa dipungkiri bahwa Ahok dikalahkan dengan isu penistaan agama, sehingga di masyarakat timbul juga polarisasi antara muslim dan non-muslim, antara muslim pro dan kontra Ahok. Sampai timbul fenomena tidak mensholatkan muslim yang memilih Ahok, padahal hanya berbeda dalam pandangan politik. Nauzubillah.

Seramnya ketika agama dipakai sebagai komoditas politik. Politik yang diharapkan disambut dengan gembira menjadi seram karena berurusan dengan keyakinan, kalau berbeda dianggap kafir dan halal darahnya. Sehingga Kementrian Agama mengusulkan untuk dilakukan sertifikasi ustadz, dan menurut kami ini baik. Setiap muslim berhak mengajak kebaikan, namun untuk berfatwa tentang hukum agama eits tunggu dulu, lihat kemampuan muslim tersebut, sesuai kriteria atau belum. Apalagi kalau fatwanya dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat, wah bisa bahaya ini.

Menurut hemat kami, terlepas dari kriteria yang tertera dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab kuning. Kriteria memilih guru agama yang fatwanya bisa dijadikan pedoman dan pandangan hidup adalah
1) memiliki SERTIPIKAT keilmuan agama yang mumpuni baik formal atau salaf,
2) mempunyai TRACK RECORD akhlak yang baik,
3) BALUNG TUO: Pengabdian sosial dan pengajaran agama di masyarakat sangat lama. Biasanya merupakan pengasuh pesantren atau yayasan Islam. Bukanlah ustadz ‘karbitan’ dan ‘labil’ karena memang sudah belajar dan mengajar sangat lama di pesantren sehingga konsisten terhadap fatwa-fatwa yang diucapkannya. Alhasil fatwa atau nasehatnya dapat menentramkan umat.

Teknologi pencari jaman now a.k.a Google begitu dahsyatnya. Rekam jejak digital seseorang bisa dicari dengan gampangnya, sehingga SERTIPIKAT keilmuan, TRACK RECORD akhlak, dan BALUNG TUO seseorang bisa dicari dan dinilai sendiri oleh warganet. Jadi kriteria diatas bisa dipakai dengan mudahnya kan ya.

Kriteria diatas lahir dari perenungan setelah melihat fenomena di beranda Facebook penulis yang berisi berita-berita media online mainstream tanah air, terkait penafsiran surat al-Maidah ayat 51. Banyak orang yang menafsirkan ayat ini, padahal bukan kapasitasnya. Maka lahirlah laman Kitab Tafsir al-Qur’an 30 Juz Karya Ulama Nusantara di website penulis, agar pembaca yang awam terhadap ilmu tafsir bisa membaca tafsir al-Qur’an langsung dari ulama-ulama ahli tafsir asal Indonesia. Lahir juga laman Orang (asal) Nusantara yang Berpendidikan Tinggi di Bidang Tafsir al-Qur’an, yang tujuannya untuk menunjukkan pakar tafsir al-Qur’an jaman now dari Indonesia, yang pendidikan formal S1, S2, dan S3 linier jurusan Tafsir al-Qur’an.

Terakhir pesan dari penulis untuk diri penulis dan mungkin para pembaca, mari berpolitik dengan cerdas dan sehat. Berpolitik dengan nafas dan spirit agama sehingga hal-hal yang dilarang agama tidak dilakukan dalam politik (misalnya korupsi, suap-menyuap, membuka aib saudara, dan lain-lain). Jangan sampai menjual (ayat-ayat) agama untuk kepentingan politik. Pilih pemimpin sesuai hati nurani dan rasionalitas Anda atas program-program yang dipaparkan.

Malang, 7 Januari 2018
– mhy

Posted in Islam, Opini | Tagged | Leave a comment