Awamku Melihat Suriah

Selain untuk mendukung status facebook kami sebelumnya [Sudah bisa ditebak dari dulu sih. Ini bukan soal Sunni-Syiah. Tapi ‘harta terpendam strategis’ di Syria a.k.a Suriah. #SaveSyria. Facebook, 2018-04-14]. Kegemesan kami yang menganggap konflik utama Suriah adalah konflik sektarian Sunni-Syiah saja, padahal benang merahnya sudah terlihat jelas . Kami akhiri dengan catatan kecil ini (kami beri nama “Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang“), karena harus fokus ngoding lagi, huhu. Kalau ada saran, kritik atau bantahan silahkan, adu argumentasi secara ilmiah. Jangan lupa rujuk sebanyak-banyaknya, karena DOI di platform ini sedang kami cek statistical impact factor-nya, haha.

Sejujurnya kalau mengingat Suriah, kami teringat idola kami. Saat itu lagi kesemsem dengan beliau, sewaktu masih aktif di Pesantren Mahasiswa Salman tahun 2013, ya Syaikh Dr. M. Said Ramadhan al-Bouti. Sejarah mengatakan beliau dibunuh jihadis sewaktu mengajar ta’lim di Masjid al-Iman Damaskus, dan saat itu kami menangis sewaktu melihat video detik-detik terbunuhnya beliau. Makanya dulu jadi dendam sama kelompok jihadis. Namun berkat sering mendengarkan kajian Hikam, alhamdulilah udah kebal sekarang sama yang namanya jihadis, karena kami cinta kalian .

Pesan:
Perdebatan pemerintah dengan oposisi yang berdasarkan data,
itu baik adanya untuk kemajuan bangsa.

Ketika ada yang salah disalah-satunya,
saling memaafkan dan pengertian kuncinya.

Asal jangan mau diadu-domba negara adidaya,
sampai ada pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Cukup ambil pelajaran dari negeri seberang,
kalah bersaing ekonomi dan politik dagang,
isu SARA dilontarkan,
dan akhirnya memprovokasi perang.

Jakarta, 20 April 2018.
– mhy yang bukanlah ahli politik Timur Tengah, dia hanya seorang rakyat jelata di Komunitas Tasawuf Politik, cuma menyampaikan berita dan data yang disertai beberapa pendapat yang menurut nuraninya benar. Tolong jangan dipercaya pendapatnya, tapi renungi data-datanya, masukkan dalam hati, enak rasanya? ambilah keputusan sesuai nurani dan keyakinanmu.

Rujuk artikel Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang
dengan sebagai:
Mohammad Heriyanto. (2018). Catatan Kecil Konflik Republik Arab Syria/Suriah 2011 – Sekarang (Version 0.0.1). http://doi.org/10.5281/zenodo.1221450

Advertisements
Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

Politik, Pemilu, dan Penguasa

Jika politik itu kotor, integritas akan membersihkannya.
Jika politik itu bau, cinta negeri akan mengharumkannya.
Jika politik itu bengkok, tasawuf akan meluruskannya.
Jika politik itu ajang cari komisi, ingat Tuhan akan menyadarkannya.

Jika pemilu itu obralan janji palsu, kreativitas dan inovasi akan mengalahkannya.
Jika pemilu itu hanya rebutan kekuasaan, negarawan akan menghapusnya.
Jika pemilu itu deal-dealan proyek, kpk siap menggiringnya.
Jika pemilu itu wahana perpecahan, cinta kasih manusia akan menyatukannya.

Jika penguasa itu korup, catatan track record akan menakutinya.
Jika penguasa itu lalim, kemanusiaan akan menghentikannya.
Jika penguasa itu tak punya malu, sanksi sosial akan menyadarkannya.
Jika penguasa itu tak visioner, sejarah akan menenggelamkannya.

Jakarta, 17 April 2018
– mhy setelah membaca kutipan tulisan J. F. Kennedy

Posted in Opini, Puisi | Tagged | Leave a comment

Sederhana Begitu

Seminggu lebih ku pantau,
amati pelajari dikau,
ku banyak meninjau,
dan akhirnya terpukau,
meski tak banyak menghimbau,
tapi banyak mutiara berkilau,
kemilau pengetahuan jadi terjangkau.

Muda alay menggebu,
lekuk tubuh terlihat tapi berbaju,
punya malu?
atau ikut tren masa lalu?
kok hobi meniru?
ah jangan seperti itu.

Citra baru,
mewah elegan tak melulu,
dengan justifikasi diri tak mutu,
banyak harta diaku, naik jatayu selalu,
selfi sana-sini tunjuk barang baru,
dan sekarang itu tak berlaku.

Tren baru,
muda sederhana tapi berilmu,
pendidikan tinggi habis disapu,
argumen-argumen ilmiah diadu,
ubah obyek pamer di medsosmu.

Sekarang itu,
otak dan hati harus bersatu,
logika dan akhlak serasi berpadu,
cerdas dan integritas jadikan mutu,
selesaikan masalah dengan ilmu.

Sekarang itu,
Tua jadikan guru,
Muda diadu data dan ilmu,
tak jadi pengganggu,
tak sampai berseteru,
apalagi jadi perusuh tak punya malu,
pemimpin muda bersahaja idola setiap waktu.

Jakarta, 15 April 2018
– mhy

Posted in Puisi | Tagged , | Leave a comment

Menteri Mei

Cita-citaku, di bulan Mei,
aku ingin jadi seorang menteri,
menteri dan juga politisi,
suka lobi sana-sini,
sampai alumni university,
minim kinerja tapi banyak aksi,
yang penting air surgawi,
mengalir deras di saku pribadi,
dalam sunyi, jauh dari berita tivi.

Enaknya jadi menteri,
di negeri imajinasi,
menteri sejati, tak pernah berhenti,
mengalahkan para staf ahli,
mondar-mandir ngurus masalah negeri,
meski bukan bidangnya resmi,
mengalahkan pencitraan rezim tirani.

Catatan ini,
dibuat di depan Gandaria City,
dengan duduk di kursi,
menunggu busway menghampiri,
mengimajinasi kursi empuk menteri,
tiap hari, di negeri imajinasi,
dijemput pajero atau lamborgini.

Jakarta, 6 April 2018
– mhy

Posted in Opini, Puisi | Tagged , | Leave a comment

Sensasi 2018

Pada tahun politik ini,
jelata sampai elit ingin unjuk gigi,
menebar sensasi sana-sini.

Sensasi yang menembus toleransi,
acuh pada norma, agama, dan logika akademik,
duh miris sekali.

Tak tahu malu menawarkan diri,
jualan kesana-kemari tanpa mawas diri,
seolah lupa akan background diri.

Viral dan trending topik jadi ukuran populer di era teknologi,
menaikkan elektabilitas dengan memperbanyak sensasi,
agar dipinang si pemilik kursi.

Pemilik kursi lobi sana-sini,
komunikasi untuk mengamankan kursi,
memang tak adakah transaksi?
begitukah citra demokrasi?

Demokrasi,
perebutan kekuasaan 5 tahun sekali,
itu fokus utama politisi, bukan negarawan sejati,
inikah yang harus dikuti?

Penonton bersorak-sorai mengamati,
kecerdasan dan logika benar-benar diuji,
keyakinan dan akal harus serasi,
emosi ditahan agar tak lari,
agar tak salah lagi mengamanahkan kursi.

Kalau salah lagi?
5 tahun kedepan akan banyak ketawa-ketiwi,
akan banyak berita dagelan politik dari para pemilik kursi,
memang sungguh lucunya negeri ini.

Catatan ini,
hanya untuk renungan pribadi,
pengingat agar tak lupa diri,
dan tak membikin gaduh negeri indah ini.
Sekian dan terima kasih.

Jakarta, 4 April 2018
– mhy

Posted in Opini, Puisi | Tagged | Leave a comment

Mencari Guru Agama Jaman Now?

Tulisan ini ada karena kegelisahan penulis di media sosial terhadap ustadz-ustadz viral dan hits jaman now yang sedang dielu-elukan warganet, yang beberapa kali membuat ‘gaduh’ dunia ke-alay-an medsos, baik karena berita hoax tentangnya ataupun ucapan ‘kepleset’ yang terlontar dari lisannya. Sekaligus sebagai tempat mengarsipkan momen geliat Islam di Indonesia periode pilkada-pilpres 2017-2018-2019.

Tujuannya, seperti yang tertera dalam judul yaitu agar pembaca yang awam agama Islam bisa menambah wawasan dalam pemilihan guru agama yang fatwanya bisa dijadikan pedoman hidup dan bersikap. Sehingga tidak terlalu serius (bahkan mengalirkan darah) ketika ada yang mengaku ustadz kemudian berfatwa politis dan terindikasi memecah belah umat untuk kepentingan golongannya ketika musim perebutan kekuasaan ini.

Dimulai dari Jokowi menjadi Presiden yang sah tahun 2014, sehingga menimbulkan polarisasi diantara masyarakat. Dunia nyata melihat ada koalisi merah putih (KMP) barisan pendukung Prabowo-Hatta dan koalisi indonesia hebat (KIH) barisan pendukung Jokowi-JK. Sedangkan dunia maya merekam kelompok Pro-Jokowi (jokower, cebonger, abu janda, dll) dan kutub lawannya yaitu Kontra-Jokowi (sumbu pendek, bumi datar, jonru, dll). Kemudian disusul fenomena Ahok, yang sebelum pilkada DKI elektabilitas nya dari berbagai survei sangat tinggi, bahkan sempat akan maju lewat jalur independen dalam Pilkada DKI namun akhirnya meninggalkan polarisasi juga di dunia maya, kelompok Pro-Ahok (ahokers, bani taplak/serbet, dll) dengan kelompok Kontra-Ahok (bani daster, dll). Tidak bisa dipungkiri bahwa Ahok dikalahkan dengan isu penistaan agama, sehingga di masyarakat timbul juga polarisasi antara muslim dan non-muslim, antara muslim pro dan kontra Ahok. Sampai timbul fenomena tidak mensholatkan muslim yang memilih Ahok, padahal hanya berbeda dalam pandangan politik. Nauzubillah.

Seramnya ketika agama dipakai sebagai komoditas politik. Politik yang diharapkan disambut dengan gembira menjadi seram karena berurusan dengan keyakinan, kalau berbeda dianggap kafir dan halal darahnya. Sehingga Kementrian Agama mengusulkan untuk dilakukan sertifikasi ustadz, dan menurut kami ini baik. Setiap muslim berhak mengajak kebaikan, namun untuk berfatwa tentang hukum agama eits tunggu dulu, lihat kemampuan muslim tersebut, sesuai kriteria atau belum. Apalagi kalau fatwanya dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat, wah bisa bahaya ini.

Menurut hemat kami, terlepas dari kriteria yang tertera dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab kuning. Kriteria memilih guru agama yang fatwanya bisa dijadikan pedoman dan pandangan hidup adalah
1) memiliki SERTIPIKAT keilmuan agama yang mumpuni baik formal atau salaf,
2) mempunyai TRACK RECORD akhlak yang baik,
3) BALUNG TUO: Pengabdian sosial dan pengajaran agama di masyarakat sangat lama. Biasanya merupakan pengasuh pesantren atau yayasan Islam. Bukanlah ustadz ‘karbitan’ dan ‘labil’ karena memang sudah belajar dan mengajar sangat lama di pesantren sehingga konsisten terhadap fatwa-fatwa yang diucapkannya. Alhasil fatwa atau nasehatnya dapat menentramkan umat.

Teknologi pencari jaman now a.k.a Google begitu dahsyatnya. Rekam jejak digital seseorang bisa dicari dengan gampangnya, sehingga SERTIPIKAT keilmuan, TRACK RECORD akhlak, dan BALUNG TUO seseorang bisa dicari dan dinilai sendiri oleh warganet. Jadi kriteria diatas bisa dipakai dengan mudahnya kan ya.

Kriteria diatas lahir dari perenungan setelah melihat fenomena di beranda Facebook penulis yang berisi berita-berita media online mainstream tanah air, terkait penafsiran surat al-Maidah ayat 51. Banyak orang yang menafsirkan ayat ini, padahal bukan kapasitasnya. Maka lahirlah laman Kitab Tafsir al-Qur’an 30 Juz Karya Ulama Nusantara di website penulis, agar pembaca yang awam terhadap ilmu tafsir bisa membaca tafsir al-Qur’an langsung dari ulama-ulama ahli tafsir asal Indonesia. Lahir juga laman Orang (asal) Nusantara yang Berpendidikan Tinggi di Bidang Tafsir al-Qur’an, yang tujuannya untuk menunjukkan pakar tafsir al-Qur’an jaman now dari Indonesia, yang pendidikan formal S1, S2, dan S3 linier jurusan Tafsir al-Qur’an.

Terakhir pesan dari penulis untuk diri penulis dan mungkin para pembaca, mari berpolitik dengan cerdas dan sehat. Berpolitik dengan nafas dan spirit agama sehingga hal-hal yang dilarang agama tidak dilakukan dalam politik (misalnya korupsi, suap-menyuap, membuka aib saudara, dan lain-lain). Jangan sampai menjual (ayat-ayat) agama untuk kepentingan politik. Pilih pemimpin sesuai hati nurani dan rasionalitas Anda atas program-program yang dipaparkan.

Malang, 7 Januari 2018
– mhy

Posted in Islam, Opini | Tagged | Leave a comment

HTI Bubar? Gimana Anggotanya?

Tulisan ini berasal dari status facebook saya. Dipindah disini untuk pengingat diri saya sendiri atau mungkin orang lain tentang pendapat saya ketika HTI resmi dibubarkan oleh pemerintah dibawah rezim Ir. Joko Widodo pada 12 Desember 2017. Berikut isi status saya tersebut:

Wah, HTI resmi bubar ya*. Bagi yang dulunya HTI**, sudahlah ikut khilafah ala Islam Nusantara yang Berkemajuan saja. Salurkan gerakah sosial keagamaannya ke Muhammadiyah, NU atau Persis. Salurkan gerakan politiknya ke partai-partai ‘Islam’, perbaiki UU yang tidak syariah menjadi syariah lewat Lembaga Legislatif yang sudah ada. Islam di Indonesia lagi dijadikan rujukan oleh bangsa-bangsa yang lain lho ya. Saat ini Afghanistan dan Arab Saudi sedang getol-getolnya mengadopsi Islam Indonesia yang moderat. Mohon bantuannya. Terima kasih.

Ref:
[*] Putusan Mahkamah Konstitusi RI. Download: http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/…/pu…/39_PUU-XV_2017.pdf

[**] Pengurus HTI Se-Indonesia. Download: https://drive.google.com/…/0ByCpKHbL9CpBQ1E5RFNlWlZhazQ/view. Mohon dikroscek, soalnya sumbernya tidak valid.

Jakarta, 13 Desember 2017
– mhy

Posted in Islam, Opini | Tagged , | Leave a comment

Takfiri Adalah Akar dari Terorisme

Sambil mengenang KH. Hasyim Muzadi, yuk tonton video Indonesia Lawyers Club (ILC) 24 Maret 2015 berikut ini. Pesan yang bisa dari Sekjen International Conference of Islamic Scholars ini berupa:
1. Awal dari TERORISME/RADIKALISME adalah manhaj/faham TAKFIRI. Senang mengafirkan yang beda dengan kelompoknya.
2. TERORISME/RADIKALISME dimodali ASING.
3. TAKFIRI menjadikan PENGERUSAKAN sebagai ibadah.
4. Menangani TERORISME melalui HULU (pendidikan yang sejuk) dengan memakai cara INDONESIAWI jangan pakai qola AMERIKANI (ditembak mati, padahal masih diduga teroris).

Jakarta, 8 Agustus 2017
-mhy

Posted in Islam, Opini | Tagged | Leave a comment

Guru di Bandung

Pengelola blog mandallawangi.blogspot.co.id adalah salah satu guru saya di Bandung, Jawa Barat. Beliau mengajarkan banyak tentang khasanah keilmuan dan budaya pesantren. Cerita-cerita beliau dikala masih nyantri di Pesantren Cipasung Tasikmalaya dan Krapyak Yogyakarta, membuat saya merasakan suasana hidup di pesantren. Banyak sekali pesan-pesan beliau yang membekas di pikiran saya dan menjadi ‘JALAN NINJAKU’.

Salah satunya seperti pentingnya pengamalan ilmu tashawwuf -tazkiyatun nafs/akhlak- untuk melihat manusia, sehingga timbul semangat memanusiakan manusia. Meskipun perilakunya sudah berada jauh melewati norma-norma manusia.

Salah duanya, penerapan tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) dalam kehidupan sehari-hari mampu membawa diri untuk bersikap,
(1) tidak memaksakan keyakinan pada orang lain, karena keyakinan urusannya dengan nyawa. Kalau dipaksakan bisa saling bunuh-membunuh. #BakalRuwet,
(2) tidak menjadi ektrimis atau radikalis saat beragama karena perbedaan adalah rahmat Ilahi. Allah Maha Kuasa, kenapa umat tidak diciptakan sama bangsa dan pemikirannya? #Mikir, Kalau kita diserang dulu? niatnya kita bertahan, melindungi hak-hak kita, ketentuan detailnya sudah jelas,
(3) lebih banyak merangkul, kayak amar ma’ruf nahi mungkarnya wali songo dan ulama-ulama pesantren gituu. Anda beda? ya silahkan, ini negara demokrasi bro!. Orang yang bilang demokrasi itu thoghut aja masih boleh hidup di negara demokrasi ko, jadi santai saja #OjoTegang,
(4) tidak kagetan melihat sesuatu, prinsip tauhid dasarnya adalah yang pasti ada itu Tuhan, yang pasti tidak ada ya tidak adanya Tuhan, selain itu mungkin ada atau tidak, itu butuh #Mikir dan penelitian, butuh data yang valid, kemudian baru bicara,
(5) tidak menghakimi seseorang nanti masuk surga atau tidak, karena itu hak prerogratif Gusti Allah. Ilmu tashawwuf mengajarkan yang mengantarkan ke surga itu rahmat dan fadhal-Nya bukan amal kita, jangan ditelan mentah-mentah harus belajar ilmu fiqh dulu. 
(6) masih meyakini PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945) adalah produk ‘Piagam Madinah’ dari seluruh suku bangsa Indonesia yang disitu ada Bapak-Ibu, Ulama-ulama berbagai agama, Pakar-pakar, Saudara-saudara kita yang rela mengorbankan jiwa, raga, harta, tahta, dan keluarga (bukan Raisa ya). Jadi sudah sepantasnya kita menghormati hasil piagam madinah tersebut, karena Rasulullah juga pernah melakukan demikian. Kalau ada yang ingin dan mau merubahnya? ya silahkan, asalkan lewat jalur yang sudah ditetapkan. Jangan sampai terjadi atau minimal cari proses yang sedikit bunuh-membunuh antar saudara sendiri.

Sekian cerita singkat tentang guru saya, lebih lengkapnya lihat blog dan vlog pribadi beliau pada kolom komentar di bawah. Jangan discreenshot, karena niatnya penulis hanya untuk DIBACA dan bahan senam otak teman facebook saja. Kalau sampai nekat tetep screenshot saya laporkan Pak Polis.   

PERINGATAN: Ini jalan ninjaku, aku tidak memaksamu untuk sama atau mengikutiku, karena aku pun tak luput dari keliru, pikirku hanya mengajakmu berfikir mengenai ini itu. Kalau ini berbeda dengan pemahamanmu saat ini, jangan ragu, percaya saja pada pemahaman dan hati nuranimu. InsyaAllah akan selalu ada titik temu untuk kita bersatu, selama kita mau belajar dan mencari tahu. #SalamLemper!

Ref:
[1] Blog: http://mandallawangi.blogspot.co.id/
[1] Vlog: https://www.youtube.com/channel/UCDm1TlAzmyBt6KJBDsVOkyg

Bandung, 27 Juli 2017.
-mhy

Posted in Islam, Opini | Tagged , | Leave a comment

Launching Laman Heri’s Book Collections

Tahun 2016, minat baca Indonesia peringkat 60 dari 61 negara[1]. Tahun 2013, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0.001% atau dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca[2].

Semoga kedepan dapat lebih baik minat bacanya.  Jadi sekarang mana bukumu?
#ayomembaca #membacaitukece #salamliterasi #tamanbacaanmasyarakat
#rekomendasibuku #pustakabergerak #najwashihab #dutabacaIndonesia.

Ini bukuku…
Silahkan mampir ke perpustakaan pribadi saya kalau ada waktu, hehe. Tempatnya masih di Bandung, belum dibawa pulang ke Banyuwangi. Setidaknya ada 180-an buku yang saya kumpulkan sejak berada di Bandung dan saya kategorikan dalam buku physics, earth sciences, pemrograman, kitab turats (kuning), buku islam dasar, lanjut, dan ringan, buku perbandingan aliran islam, ke-NU-an, buku saku islam, tokoh nasional dan internasional, english language, dan lainnya.

Berikut lamannya: Heri’s Book Collections.

Ref:
[1] http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data
[2] http://en.unesco.org/countries/indonesia

Bandung, 19 Juli 2017.
-mhy

Posted in Akademik, Opini | Tagged , | Leave a comment